Menikmati Pergantian Tahun di Pulau Setan

Tag

, , , ,


Biarlah Foto yang bicara: Terima kasih kepada, Chemput, Mbenk Si Gitaris 24 jam, Oom Obi, Nisa “Rambo” Vokalis 48 jam, Uda Dayu Gantng, Mbak Ika Koki, Bro Edwar, Pak Fotografer Pinyu.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sampai Bertemu di trip berikunya Tabik

Iklan

Uncu Suardi

Tag

, , , , , ,


Uncu Suardi

Uncu Suardi

Setelah bersapa dan bercerita, bapak ini menanyakan “apo suku, nak”, maka saya menjawab, “Tanjung suku wak, Pak”, di-saut oleh istri si Bapak, “sa-suku jo apak tu ma, Ba Uncu ajolah lai”, begitu kata beliau, pada saya. Maka pada pemotretan saya pagi ini di Sawah Laweh Tarusan saya tak hanya mendapatkan potret petani yang keren tapi juga mendapatkan dunsanak disana, saya mendapatkan Uncu.

Jarni nama istri beliau, berdua mereka sedang menanam padi, benih yang sudah dirawat selama seminggu sudah saatnya ditanam dan hari ini adalah hari ke 3 suami istri ini menanami sawah, sawah yang bukan sawah mereka. “Kami mengerjakan sawah orang lain, nantinya setelah panen akan dilakukan bagi hasil”, begitu tek Jarni menjelaskan.

Etek Jarni

Etek Jarni

Di Sawah Laweh Tarusan, saya tak hanya disuguhi bentangan sawah yang luas namun juga pemandangan yang indah, dengan latar bukit-bukit berlapis pemandangan pagi di Sawah Laweh Tarusan memang menyegarkan. Petani yang ramah, menyambut dengan senyuman, sesekali saya disoraki ketika memotret teman mereka, “etek ko lo poto lai a”, “amak ko lo lai a”, begitu bersaut saut suara mereka.

Bentangan Sawah Laweh, Tarusan

Bentangan Sawah Laweh, Tarusan

Para petani disini bertanam 2 kali setahun, menunggu musim hujan karena tak ada irigasi yang bisa mengeliri sawah ini setiap saat. Kata Uncu Suardi, “kami manunggu aia menitiak dari langik”, ya, para petani baru bertanam saat hujan turun dari langit dan mengaliri sawah mereka. Mereka menyambutnya dalam suka cita, menyambut hujan dengan wajah-wajah semringah.

Tentunya pagi ini saya benar-benar beruntung, menikmati suasana pagi Sawah Laweh, bercerita dan memotret aktifitas uncu Suardi dan istrinya. Saya meminta kepada beliau agar nanti juga bisa memotret lagi saat padi mulai rimbun dan saat panen. Kata Etek Jarni “ituanglah kiro-kiro tigo satangah bulan dari kini, urang manyabik ma”

Semoga saja saya bisa memotret proses batanam sawah keluarga ini sampai manyabik, bisa mendokumentasi prosesi basawah masayarakat Tarusan nantinya, terimakasih Uncu Suardi dan Etek Jarni. Sampai jumpa lagi.

Bukit Langkisau Painan, Sumatera Barat

Tag

, , , ,


Pada Puncak Langkisau keindahan dan keberanian bercumbu, mengantarmu pada dendang perindu.

TF1

Jika ke Kota Painan, percayalah belum lengkap kunjungan yang kita lakukan bila tidak singgah di Bukit Langkisau. Bukit Langkisau adalah salah satu kawasan rekomendasi untuk menikmati alam sambil membidikkan kamera. Baik pagi, siang, malam, sunrise, sunset atau menikmati gugusan bintang dan kerlip lampu kota, Langkisau menawarkan semuanya untuk anda para penikmat alam dan fotografi.

Langkisau Bukit Painan, Batampek Mandi Picuran Madam, begitu pernah didendangkan Elly Kasim, bukit itu menjulang gagah di antara Kota Painan dan Nagari Salido (Kabupaten Pesisir Selatan – Sumatera Barat). Puncak bukit ini  memiliki ketinggian kurang lebih 400 meter. Menuju ke Puncak Langkisau kita akan di tawarkan sebuah perjalanan yang memukau sekaligus menantang.

Perjalanan akan dimulai dari pusat Kota Painan dengan rute yang  menanjak dan berbelok. Namun jika bukan anda yang mengemudi, silahkan alihkan pandangan ke kiri dan kanan, panorama laut dan gugusan rumah-rumah masyarakat Painan akan menjadi pemandangan yang sangat menakjubkan. Sesampainya di lokasi parkir, kita masih harus berjalan kaki sekitar 25 meter menaiki tangga, dan selepas anak tangga terakhir bersiaplah menerima kejutan panorama kesempurnaan Bukit Langkisau.

TF2

Kawasan Bukit Langkisau adalah salah satu arena Paralayang yang paling banyak diminati oleh Para Glider Nusantara dan Dunia. Berbagai even telah menjadi torehan tersendiri bagi catatan perjalanan olehraga Paralayang di Langkisau, tentunya yang rutin dilaksanakan setiap tahun adalah Festival Langkisau. Tahun ini saja Bukit Langkisau mendapat kehormatan sebagai tuan rumah, seri pertama Paragliding Accuracy World Cup (PGAWC) Painan, Bukit Langkisau, pada 25-28 April 2013 yang lalu.

Keindahan dan keunikan alamnya, begitu banyak spot bertebaran di sekitar Bukit Langkisau yang dijamin dapat memuaskan hasrat fotografi anda. Saat kita menambatkan pandang dari lokasi atlit paralayang lepas landas, kita akan menyaksikan lanskap Samudera Indonesia dengan gugusan pulau-pulau kecil yang ketika senja cerah akan menawarkan sunset jingga yang menyejukkan. Memutar arah pandang ke Utara Bukit Langkisau, kita dapat melihat lekuk-lekuk geogafis Nagari Salido. Ada Pantai Salido tempat landing atlit paralayang, bukit barisan yang menghijau, sungai yang berliku dan juga pemukiman penduduk yang tertata.

Setelah puas dengan pemandangan di Puncak Bukit Langkisau, jika kita sedikit berjalan turun dan menolehkan pandang ke Selatan, kita akan disuguhi spot Kota Painan yang kecil dan indah. Bentangan pemandangan Kota Painan yang dipagari perbukitan dengan tata kota yang menarik, selain itu terlihat pula lanskap Teluk Painan yang tenang serta Pelabuhan Panasahan di kejauhan. Pemotretan di lokasi ini disarankan pada sore hari, kota yang disirami cahaya matahari dari Barat membentuk kesan yang meneduhkan. Namun jika kita ingin mengejar momen sunrise, maka datanglah setelah azan subuh.

Saat ini, selain ditawari wahana olah raga dirgantara, bukit langkisau juga telah dilengkapi dengan fasilitas outbond berupa flyingfox. Flyingfox seringkali menjadi alternatif yang menarik untuk liburan keluarga. Sehingga tak heran jika Kawasan Bukit Langkisau menjadi pilihan untuk menghabiskan akhir pekan bagi banyak pengunjung di sana.

Bagi kita yang mengagumi pohon-pohon yang berumur puluhan atau mungkin ratusan tahun di lereng-lereng Bukit Langkisau hal tersebut juga ditemukan. Pohon-pohon besar itu serupa penyangga yang memberikan daya tarik yang unik. Untuk eksplorasi pohon anda butuh pemandu yang memahami seluk beluk badan Bukit Langkisau. Selain itu beberapa pohon-pohon kering diantara hijaunya rerumputan juga spot yang tak bisa dilewatkan begitu saja.

TF3

Kawasan puncak Langkisau ini juga dilengkapi dengan fasilitas warung makanan dan jajanan. Salah satu yang paling popular adalah warung Om Anto, bersebelahan dengan bast camp Paralayang Langkisau, warung ini menyajikan pemandangan arah kanan kota Painan dan arah kiri gugusan laut dan pantai Salido.

Nah, disarankan menyediakan waktu sampai malam di puncak Langkisau,  kita juga akan disuguhkan sebuah pemandangan kota Painan yang luar biasa, dipenuhi gemerlap cahaya lampu-lampu, baik itu lampu jalan maupun lampu-lampu rumah penduduk. Suasana ini akan mengantar kita masuk ke ruang berbatas yang luar biasa, kita seperti menjadi penonton, dan gemerlap Kota Painan adalah sebuah tayangan rutinitas malam yang menggairahkan.

Yuka Fainka Putra – Pencinta Kopi, Puisi dan Fotografi.
Bergiat di Komunitas Painan Photographers
Foto dan Artikel ini di Muat di Majalah Travel Fotografi Volume 9 [Juni-Juli 2013]