Tag

, , , , ,


Puluhan tahun kami menunggu akarnya saling bersalaman, kemudian akar-akar itu bersulam, berjalinan, saling melilit, dilapisi dan ditopang bambu, diiringi doa dan sukuran oleh masyarakat, akhirnya menjadi jembatan yang kokoh. Jembatan ini telah berumur ratusan tahun, tak pernah ada pengunjung terjatuh saat melintas. Begitulah tutur Jarwanis saat saya mengunjungi kawasan wisata Jambatan Aka (Jembatan Akar), di Kecamatan Bayang Utara, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

jambatan aka 1

Pagi itu saya bersama kawan-kawan komunitas Painan Photographers melakukan perjalanan menuju kawasan Jambatan Aka, berangkat dari Nagari Painan, kita sebetulnya bisa memiliki alternatif masuk dari Pasar Baru Bayang atau melalui Nagari Lumpo, yang berjarak tempuhnya sama, kurang lebih 24 KM dari Painan. Bersepakat, kita memilih jalur Sianik Sago, melawati Gunung Bungkuk, Nagari Lompo. Jalur ini memiliki lanskap yang indah, sawah-sawah terbentang, aktifitas masyarakat yang bersawah dan keladang, dan juga jalan yang menantang.

Menjelang sampai dilokasi jalan mulai menyempit, aroma petualangan akan terasa kental. Bukit-bukit berlapis, dinding-dinding tebing ditumbuhi pihon-pohon rindang yang berjarak. Rumah-rumah penduduk di kiri-kanan jalan, wajah-wajah ramah yang melempar senyum dan saling sapa. Kita juga akan melihat penduduk yang menjemur hasil ladang dan sawah mereka, seperti padi, pala, pinang, dan lain-lain. Menunggu hari balai, pasar Sabtu yang ramai.

Sesampainya di lokasi kita akan dipungut retribusi karcis Rp. 5000/ Orang. Setelah berjalan sekitar 100 meter, kita langsuang diperlihatkan dua pohon yang akarnya saling berhubungan yang membentuk sebuah jembatan alam yang masih sangat asri, Jambatan Aka memang menakjubkan. Bersama gemuruh suara air, gemercik aliran sungai, ada kedamaian di kawasan ini. Kita bisa menikmati alam sekaligus menyelami diri, melepaskan penat dari rutinitas harian. Jambatan Aka, merupakan salah satu jembatan yang terunik di dunia, menjadi penghubung dua Jorong, Puluik-Puluik dan Lubuak Silau.

Saya menyusuri lekuk demi lekuk kawasan ini, sembari mengabadikan bagian-bagian yang menarik. Akar-akar yang berjalin unik, desir air yang hari itu terlihat kehijauan, cuaca sangat baik, pagi yang hangat, langit biru dan suasana masih belum begitu ramai. Namun jika sudah agak siang orang-orang akan berlalu-lalang di jembatan, saat melintasi musti bergantian dari arah yang berlawanan, setiap yang melintas jumlah pun dibatasi dan diawasi langsuang oleh penduduk yang mengelola lokasi. Jembatan ini berukuran kurang lebih panjangnya 30 meter dengan lebar 1 meter, sementara ketinggian dari air sekitar 10 meter.

Selain itu kawasan ini juga memiliki banyak pedagang yang menjual cemilan dan minuman ringan. Setelah penat mengeksplorasi, akhirnya saya berhenti lalu memilih salah satu kedai pondok dan menikmati kopi bersama kawan-kawan lain. Pemilik kedai inilah Ibu Jarwanis, yang akhirnya menjadi informan untuk sejarah Jambatan Aka ini. Beliaulah yang bercerita banyak bagaimana Jambatan Aka ini terbentuk.

jambatan aka 2

Ibu Jarwanis bertutur bahwa, adalah Pakih Pohan, seorang guru mengaji yang memiliki ide dan mananam dua batang jawi-jawi (sejenis pohon beringin). Pakih Pohan berharap akar batang jawi-jawi bersalaman dan membentuk jembatan alam. Ia, mendambakan jembatan tersebut nantinya bisa menghubungkan dua daerah Pulik-puluik dan di Lubuak Silau yang dipisahkan dengan Batang Bayang. Sebelum ide itu telah juga pernah di bangun jembatan darurat oleh warga dari kayu namun selain tak bertahan lama, jembatan juga sering hanyut diterjan air. Pakih Pohan mengangap jika jembatan diciptakan dari alam maka tak akan mudah rusak. Bagi Ibu Jarwanis, Pakih Pohan yang bersuku Jambak adalah urang sumando  kaumnya yang bersuku Tanjang.

Kemudian beliau mengatakan, bahwa biasanya sering kali orang mandi di bawah jembatan, ada yang hanya sekedar ingin mandi berendam namun ada juga yang menganggap bahwa mandi disana membawa berkah, mudah rezki dan jodoh. Saat hujan besar kegiatan mandi dibawah jembatan dilarang, arus air terlalu deras dan keruh, kegiatan tersebut membahayakan.

Bersama cucunya ia bercerita pula soal kunjungan meningkat di hari sabtu minggu jika dibanding hari karja. Saat balimau (tradisi menyucikan diri menyambut datangnya bulan Ramadhan) dan libur lebaran adalah waktu dimana kunjungan begitu ramai. Pemerintah dengan masyarakat bekerja sama dalam mengelola objek wisata ini, setahun pemerintah mengontrak kawasan ini kisaran Rp.15.000.000,- nanti kami masyarakat diharuskan merawatnya, kemudian diperbolehkan berdagang dan juga mengelola karcis, hasil dari penjualan karcis diberikan ke pemerintah Rp.1000,- sementara Rp.500 untuk pendidikkan diwilayah ini, tutup beliau sebelum kami berpamitan.

jambatan aka 3

Selepas dari warung Ibu Jarwanis, saya kembali mengabadikan beberapa spot, dari berbagai sudut Jambatan Aka, sebelum cuaca berganti dan matahari meninggi saya melakukan eksplorasi dari dari samping, bawah dan jalur yang menarik dan kami anggap seru, perlu menjadi catatan cuaca di hulu Bayang ini cepat berubah. Pendokumentasikan Jambatan Aka musti dituntaskan sebelum matahari berada tegak di atas kepala.

Yuka Fainka Putra – Pencinta Kopi, Puisi dan Fotografi.
Bergiat di Komunitas Painan Photographers
Foto dan Artikel ini di Muat di Majalah Travel Fotografi Volume 22 [2014]
Iklan