Tag

, , , , , , ,


“Kami seperti terlepas dari kutukan”, begitu ucap mereka sembari terus mampasiang (membelah sambil membersihkan) ikan hasil tangkapan.

kampung nelayan 1

Hari itu adalah hari bergembira, ketika hasil tangkapan ikan begitu baik. Menurut cerita Pak Uyuang, “Sudah sangat lama ikan tak mau ditangkap dengan jumlah banyak, hari ini adalah hari berkah, semoga kami tak lupa lagi bersyukur, alam terus merestui dan tangkapan nelayan tetap bertahan baik”, kata beliau.

Kampung Nelayan di Muaro, Kota Painan, pagi itu bergeliat, aktifitas begitu padat, tua, muda anak-anak, mereka membersihkan ikan, ada pula yang memotong ikan, merebus lalu menjemur. Menjelang siang sudah banyak yang mengemas dan mem-pack ikan kering, sembari proses transaksi terus bergulir. Saya mencoba mengabadikan rentetan kegiatan di Kampung Muaro ini. Kampung nelayan yang sering “terabaikan” di hiruk-pikuk geliat Kota Painan.

Usut punya usut ternyata di tahun 80an sampai awal 90an, nelayan di kampung ini hidup sejahtera, mereka banyak memiliki bagan (kapal-kapal penangkap ikan ke laut dalam). Pada taraf hidup baik seperti itu mereka menjadi jumawa, lupa diri dan sombong, sering berfoya-foya bahkan sisa hasil tangkapan dibuang sekehendak hati. Akhirnya “kutukan” itu datang dan ikan-ikan sudah tak mau ditangkap, kehidupan berubah, kemiskinan menghampiri, satu persatu bagan terjual, dari juragan menjadi buruh. Begitulah cerita yang berkembang dari mulut ke telinga.

Jika sejarah dibentang, awal tahun 70an, nelayan-nelayan dari jauh pun datang berburu rezeki di laut ini. Mereka nelayan dari Bugis dengan kapal-kapal besar, sebagai pelaut yang terkenal tangguh mungkin mereka ingin menguasai seluruh lautan di Nusantara. Para pelaut Bugis ini mencium harumnya ikan-ikan di teluk Painan, mereka datang, satu dua orang, kemudian menyusul grombolan besar, dengan alat tangkap lebih moderen, jauh meninggalkan nelayan pribumi.

Pelaut Bugis berjaya, mereka disambut dengan tangan terbuka oleh samudera dan orang-orang berhati ramah, tangkapan berlimpah. Penduduk Pasie Painan pun banyak yang bekerja pada mereka, pelaut tangguh pun tinggal di kawasan Pasie dan Kampuang Jao, Painan, ada pula nan berumah tangga dengan penduduk asli. Sampai bencana itu terjadi, menurut cerita yang beredar karena ketidakjujuran menjaga baliang-baliang biduak, baliang-baliang hilang, tak ada yang mengaku, cakak banyak terjadi. Orang-orang Kampung Muaro Painan marah, Pelaut Bugis diusir, kapal-kapal mereka dibakar. Kemudian nelayan pribumi kembali bekerja dangan cara-cara mereka, dengan biduk-biduk kecil bacolok menelusuri samudera.

Bagi genarasi tua, ketika saya melakukan pemotretan ini, wajah mereka tampak sekali bergairah, semangat memuncak, mereka seperti bernostalgia, namun saat bertutur kata mereka lebih hati-hati dan bijaksana tidak lagi berlebihan, “kami tak boleh sombong lagi, rasaki lawik, rasaki harimau (rezeki dari tangkapan di laut tak bisa ditebak)begitu ujar Pak Uyuang.

kampung nelayan 2

Sore yang Menakjubkan

Penat dengan aktifitas sepanjang hari, kehidupan sore di Kampung Nelayan Muaro, Pasia Painan memberi suasana menenangkan. Ada semacam relaksasi yang diberikan alam dan realitas pada saya, dan saya duduk menyaksikannya, sebagai subjek, menyatu dengan lekuk-lekuk hari kehidupan Kampung ini. Seutuhnya bagi saya suasana ini seperti menyelusuri diri sendiri, meyelami, sisi paling dasar dari kedirian saya, yaitu rasa nyaman.

Kita akan menyaksikan orang-oarang berlalu-lalang sepanjang pantai, pantai yang landai. Langit mulai memerah, anak-anak bermain ombak, sambari tertawa, mereka menikmati masa kacil tanpa beban, masa-masa yang menyenangkan. Saya mengikuti mereka, sembari memotret aktifitas yang mereka lakukan, menemukan mata-mata muda yang menyala sekaligus mengundang gundah.

Kemudian perahu-perahu yang ditambatkan, perahu para pemancing ikan, perahu transportasi objek wisata Pantai Carocok ke Pulau Cingkuak. Dengan latar matahari terbenam, ada nalayan yang pulang sore hari, lalu, nelayan yang sedang persiapan berangkat melaut di malam hari, semuanya adalah bingkai-bingkai realitas yang menakjubkan untuk diabadikan. Kita diberi biegitu banyak pilihan untuk mengeksplorasi keindahan alam, laut lepas, pantai yang menikung, anak-anak kecil di senja yang memerah.

kampung nelayan 3

Peluang Etnowisata

Saat pandangan kita arahkan ke pemukiman penduduk dan bentangan alam kampung ini, memang terlihat kurang tersentuh pembangunan, hanya jejeran beberapa rumah batu sisa-sisa kejayan tahun 90an telihat, selebihnya rumah dari kayu berderet sepanjang jalan. Memang baru-baru ini ada jalan yang sudah disemen. sebagai jalur alternatif menuju objek wisata Pantai Carocok, jalan ini dulunya tanah, dan pengembangan kawasan wisata pantai Carocok merubahnya.

Mungkin juga akan merubah banyak tataran kehidupan sosial masyarakat kampung Muaro Pasie ini, kisaran 500 meter dari kampung Muaro, pembangunan fisik pariwisata sedang marak-maraknya, pantai ditimbun, keasrian terpinggirkan berganti kemegahan. Bisa saja dalam sekejap pembangunan tersebut sampai ke Kampung Muaro ini. Pembangunan yang akan merubah sistem mata pencarian masyarakat, kawasan pantai alami akan terkikis dan keeksotisan sore yang bisa saja jadi kenangan.

Namun pada sisi lain hal ini sebetulnya peluang alternatif bagi pemerintah, maraknya pengembangan etnowisata di banyak tempat, bisa jadi pembelajaran. Jadikan Kampung Muaro Painan menjadi kampung (desa) wisata, dengan pola kehidupan masayarakat yang menarik, memiliki keindahan alam dengan latar objek wisata Pulau Cingkuak dan Pantai Carocok Painan. Pemerintah daerah bisa memanfaatkan peluang ini, membangun beberapa fasilitas pendukung, tidak merubah keasrian, wisatawan tentu bisa menikmati dan mempelajari proses berkehidupan masyarakat di Kampung Muaro, dengan demikian taraf hidup masyarakat bisa membaik dan alternatif mata pencaharian bisa terciptakan.

Yuka Fainka Putra – Pencinta Kopi, Puisi dan Fotografi.
Bergiat di Komunitas Painan Photographers
Foto dan Artikel ini di Muat di Majalah Travel Fotografi Volume 21 [2014]

Iklan