Tag

, , ,


Fragmen Kota

Di kota ini orang-orang tumbuh bersama anyir dan amis pantai.
Juga kenangan yang pandai berkelit.
Kunyit, lengkuas dan peta buta adalah drama,
dari celoteh kedai kopi yang tak bisa dibagi habis,
selalu ada yang tersisa, baik itu berupa nama atau tanda tanya.

Ada pula segitiga patah siku,
serupa fatamorgana yang mencul di aspal ketika suhu menjadi gila,
mungkin meraka alfa,
pura-pura lupa sejarah dan bagaimana orang-orang menanak makna.
Lupa bagaimana perjuangan dan proses saling bunuh,
Lupa kebahagian dan kebencian meluap, mengancam dan menerkam.

Namun kepulangan adalah oasis,
Juga bayang-bayang tukang rabab nan tak bias ditepis.

Ada yang musti dipantang, ada yang musti ditentang.

Matahari serupa trapesium, dan pada tanah yang rindang ini,
ombak tumbuh pada pori-poriku. Aku tergadai.

Apa sebenarnya yang ditunggu orang-orang?
Apakah ladang yang lapang, atau laut yang melunasi sansai.

Painan, Maret 2015

Di Muaro, Pasia Painan

Jalan berpasir, jalan tanpa kerikil,
jejak-jejak serupa mata kail, tak dimakan umpan,
putus terpaut dibawa ombak sampai hilir.

Hendak kemana ujung tarian angin,
bisakah kaki-kaki kecil berlari menahan gigil.

Maka, sebutkan aku satu saja warna dari bunga tujuh rupa,
biar reda nyilu di bibir,
biar tahan badan dihempas anyir.

Pantai menyempit, angin menari, diri terjepit,
dimana lagi hendak melepas layangan,
kemana lagi hendak bersandar mencari labuhan.

Painan, Maret 2015

Bunyi Sunyi

Selepas matahari tenggelam,
cakrawala terbakar dan kapal-kapal nelayan berdiam di tambatannya.

Laut memerah, langit memerah dan kita memendam marah.
“Kita akan melawannya dengan kenangan,
sebab mereka menggunakan kekuasaan untuk merubah keindahan”.

Angin menyaji, tepian beralih,
tak ada lagi sunyi, tempat mengunjungi diri.

Duh, kemana perginya kenangan yang berserak sepanjang pantai ini?
Ke mata kunang-kunang, hendak kuraih mimpi.

Tapi, missalkan esok hari belum bias aku tebus janji,
Pada matamu aku titipkan bunyi, sunyi.

Painan, Maret 2015

Deadline Rindu

Deadline serupa rindu yang menyublin di kotak segi empat.
Dan tubuhku sedang menggugat kepala yang tak mau patuh
dengan detak waktu, rindu, rindu, rindu padamu.

Rindu yang meredam asam ditubuhku,
Membalut kantuk dan lelahku.
Ah kasih. Pada tikungan kesekian aku juga akan kepelukmu,
Merebahkan penatku,
Membalut rindu yang menderu.
Painan, Maret 2015

__________________________________________________________

Yuka Fainka Putra, menyelesaikan studi Antropologi, penyuka Kopi, Puisi dan Fotografi. Puisinya telah disiarkan diberbagai media dan antologi bersama, Tahun 2009 menulis buku Antologi Puisi Indie, “Malam-Malam di Halaman Pantai”.

Puisi Singgalang Mingg, 12 April 2015

Puisi Singgalang Minggu, 12 April 2015

Iklan