Tag

, ,


Penambang Pasir Tradisional.

Penambang Pasir Tradisional.

Realitas hari ini eksploitasi besar-besaran terhadap hasil tambang bumi telah memporak-porandakan pelbagai keseimbangan alam. Kita mendengar dan menyaksikan sendiri eksploitasi menggunakan teknologi atas nama logika modernitas. Pengerukkan pasir dengan mesin-mesin canggih telah merusak tatanan kehidupan manusia dengan alam.

Didera kegelisahan atas apa yang terjadi diberbagai tempat yang merusak alam, ternyata di Kanagarian Salido ada orang-orang yang bertahan dengan cara tradisional. Beberapa orang penambang pasir sungai di bawah Jembatan Salido menggunakan biduak sebagai alat angkut untuk hasil tambangan pasir mereka. Pasir di tambang langsung dari sungai dengan tangan menggunakan sekop kerucut perlalahan-lahan hingga terkumpul di biduak. Menurut Anto “kami bertahan agar alam selalu merestui, sungai terjaga dan rezeki kami tetap terpelihara”

Motode pengambilan yang dilakukan ini ramah lingkungan karena tidak mengeksploitasi sumber daya alam secara rakus. Para penambang pasir pagi-pagi sekali akan berangkat mengumpulkan pasir, setelah pasir terkumpul mereka akan ketepian dengan biduak yang terisi pasir, kemudian pasir ”dibongkar” lagi sebelum dinaikkan ke mobil truk yang sudah menunggu. Biduak yang ada pun hanya siktar 5, pada setiap biduk paling banyak 3 atau 4 kali dalam sehari, yang nantinya dimuat pada truk. Selanjutnya pasir tersebut didistribusikan ke lokasi-lokasi proyek pembangunan.

Pola penambangan seperti ini telah dilakukan bertahun-tahun dan turun temurun, dipertahankan sampai dengan hari ini. Walaupun para penambang tahu betul bahwa dengan sistem seperti ini mereka tak akan menghasilkan pasir yang banyak. Namun nilai-nilai kearifan lokal masyarakat mengajarkan, cara ini adalah jalan yang baik menjaga rezki untuk mempertahankan keseimbangan ekosistem.

Singgalang, Minggu 27 Januari 2013

Singgalang, Minggu 27 Januari 2013

Yuka Fainka Putra (Freelance Fotografer bergeliat di Painan Photography)

Iklan