Tag

,


Tak semua momen bahagia menawarkan cerita indah. Kadang ada saja hal kecil yang membuat cerita kurang sedap dari sebuah momen indah, itu mungkin semacam bumbu pelengkap lain. Saat melihat dengan sedut pandang terbuka, bukankah ending-nya yang tetap mengantarkan senyum dan pelukkan, itu sangat hangat. Ah, sii Mbenk di wisuda juga.

Sabtu, 24 November 2012, hari pembabtisan itu dilakukan. Bukan hanya Robert Centurion yang menunggu moment luar biasa ini, semua orang dekatnya telah mempersiapkan menuju hari bahagia tersebut. 3 tahun 24 bulan dengan perjuangan yang berdarah-darah akhirnya toga itu bersarang di kepala gitaris Lemontea Band.

Dalam Ruangan Pembabtisan

Proses adalah jalan yang mengantar kita melihat hidup tak hanya hitam dan putih. Saya yakin sii Trebor Centurion ini juga telah berproses dalam putaran waktunya. Ia akan terus bergulir dan memilih jalan untuk dinikmati, ditelusuri dan terus menggelinding menuju keinginannya. Apapun itu, saya akan selalu disebelahnya.

Kembali ke cerita wisuda tadi, saya bersama Abak Karim, Amak Yuni dan Hari Chemput berangkat dari Painan menuju lokasi wisuda Mbenk pada pulul 07.00 sampai sekitar 10.30an, memilih istirahat dulu di kafe Bang Adam. Sii wisudawan sendiri baru sampai sekitar setengah jam setelah itu. Informasi yang disampaikan Mbenk malamnya acara akan berlangsuang puluk 13.00 wib, untuk menghindari macet maka datanglah pagi, dan kami telah datang pagi, sesuai petunjuk.

Di Kafe Bang Adam Bersama Amak

Wisudawan jo Amak di Kafe Bang Adam

Pada jam yang ditentukan masuklah Mbenk bersama Amak dan Abak ke ruang wisuda. Coba bayangkan sekitar 400an dipanggil satu persatu untuk dilantik, ditambah tetek bengek seremoni, sambutan dan lain sebaginya, proses seluruhnya baru selesai sekitar jam 16.00. (saya kira dibanding 5 tahun, 4 jam itu ngak ada artinya sih, hehehe) tapi kondis 4 jam tersebut bagaimana pun jadi menjemukan karena perut kosong, heheheh dan emosi jadi susah dikontrol.

Kami pun diluar telah berkumpul, selama proses 4 jam tersebut, satu persatu teman, kolega telah berdatangan, ada Nanda, Feby, Amek, Chemput, Fajar, Tivo, Ibet, Bob, Riche, Kemenk, Opy, Jenet, Pidin, Gema, (kalo ada yang lupa maap ya). Berbagai hal dilakukan, mulai manggaduh cewek, berfoto-foto, atau bercerita bermacam hal, bermain lasit-lasit pun jadi.

Menunggu Wisudawan

Menunggu Wisudawan

Berfoto-foto

Pidin, Amek, Riche

Main Dulu

Main lasit-lasitan dulu, ayo tangan siapa?

Nah…bumbu kurang sedap itu ternyata dimulai ketika Mbenk keluar ruang wisuda, mungkin memang karena kondisi 4 jam yang menjemukan dan sesampai diluar dipaksa foto-foto akirnya pas giliran saya yang juga sedang menahan lapar, terjadi keinginan yang berlawanan saya pingin di foto berdua dengan Mbenk, eh sii sarjana malah mengelak, happp… maka terkancelah saya yang lagi lapar. Setalah itu kondisi sedikit kurang bergairah. Suasana masam menempel di wajah-wajah kami.

Inilah bintangnya

Inilah bintangnya, tukang rusuh

Puncaknya terjadi kitaka habis berkliling, selepas dari rumah Pak Cik dan malam mulai larut, saat foto keluarga belum dilakukan, saat di dalam mobil, saat sebuah bom meledak, saat pedebatan antar ^%$#)*& vs ^@$^(# memuncak, saat konflik makin anarkis, saat tuhan, akirat dan masa lalu di bawa-bawa. BAHHH… saat itu kami menemukan studio foto.

Maka dengan suasana yang super panas itu proses berfoto dilangsuangkan. Berbagai gaya diarahkan, berupa posisi disesuaikan, perlahan dengan arahan sii fotografer suasana mencair. 1 (satu), 2 (dua), jeprettttt. Bukankah ending-nya yang tetap mengantarkan senyum dan pelukkan, itu sangat hangat. Selamat wisuda Mbenk, selamat datang di dunia nyata, Rion.

Wisuda Sii Mbenk

Selamat Datang Di Dunia Nyata, Mbenk

Tabik.

Iklan