Tag

, , ,


Guning Kerinci dari Sangir

Gunung Kerinci dari Sangir

Lagi-lagi ini bukan semacam jalan-jalan fotografer. Apa lagi jalan-jalan antropolog yang mesti holistik. Ini adalah semacam pendokumentasian sepenggal, dari perjalanan kerja. Menyelip disela-sela waktu, saya menyempatkan diri mengabadikan peristiwa. Apa saja yang secara sabjektif saya anggap menarik.

Menerima jadwal dari tim bahwa akan ada kunjungan kerja ke Selok Selatan, tentunya bagi saya suatu yang menyenangkan. Berangkat siang dari Kota Padang, dengan menggunakan dua mobil. Mobil pertama diisi B-12 dan Herman, sedangkan Uda Akong, Dayat dan saya di mobil yang kedua. Dengan perjalanan kira-kira 4 sampai 5 jam, kami sampai menjelang magrib, menginap di hotel Pesona Alam Sangir.

Sudah menjadi kebiasaan bagi saya untuk sebisa mungkin mencuri waktu untuk memotret sisi lain dalam setiap perjalanan kerja. Kali ini pun saya sudah mempersiapkan kamera dan berbagai peralatanya. Adalah suatu kepuasan jika kita bisa membuat penanda pada sebuah perjalanan, atau mendadak ada peristiwa yang bisa diabadikan diluar kegiatan kerja.

Selamat Datang Di Solok Selatan

Selamat Datang Di Solok Selatan

Tentunya dalam catatan ini kita abaikan seluruh rutinitas kerja yang berlangsuang pada hari itu. 21 Juli 2011, teramat padat. Kegiatan telah dijadwal dibeberapa tempat, berlangsuang dari pulul 09.00 sampai 17.30, semuanya sudah diatur. Sudah menjadi kebiasaan tim selesai kegiatan dan sillaturahmi kita langsuang bergerak pulang, itu berarti kesempatan saya buat motret hayalah ketika pagi sebelum kegiatan.

Bangun kira-kira 05.30 pagi, beres-beres, dilanjutkan meneguk kopi saya memilih keluar hotel sambil menenteng kamera. Hal yang paling realis untuk menandai perjalanan ini adalah memotret arsitektur bangunan hotel. Karena jika kegiatan sudah dimulai tak ada kesempatan lagi untuk memotret hal lain. Ketika keluar hotel, kesempatan dan momen indah itu datang.

Keluar dari pintu samping saya tergagap akan dua hal, pertama hembusan angin yang menciptakan gigil pada tubuh. Kedua, lanskap Gunung Kerinci yang luar biasa indah, cuaca sedang baik Gunung Kerinci begitu gagah tampak dari parkiran hotel. Ini adalah sudut lain Gunung Kerinci, Gunung Kerinci dari kaca mata Sangir yang menguning. Gunung Kerinci yang disiram mentari pagi.

Puncak Gunung Kerinci

Puncak Gunung Kerinci

Tak cukup sampai disana, dengan memutar sudut pandang ke Timur, saya mendapatkan keindahan selanjutnya, saya menemukan matahari yang baru muncul, perlahan ia memerah, membakar gairah. Disela-sela daun ia menyeruak, memberi tanda, mengantar kenyamanan pagi. Saya memuja, mencinta pagi Solok Selatan, mencintai kesempatan yang mungkin tak terulang.

Sunrise Solok Selatan

Sunrise Solok Selatan

Jika ditanya tentang sunrise yang paling indah, memang sampai hari ini sunrise Mentawai belum tergantikan eloknyo (mungkin lain kali saya akan bercerita tentang ini). Akan tetapi tenang sunrise di Sangir ini tetaplah sebuah keindahan pagi yang luar biasa, “selalu ada bonus jika kita bangun pagi”.

Beberapa bulan yang lewat saya mendapat kesempatan yang sama, namun momen memang tak datang dua kali. Pagi mendung, tak ada Gunung Kerinci yang menguning, tak ada bola pijar yang memerah, bahkan tak ada gigil dipagi itu, namun perjalanan akan kembali dilanjutakan. Salam

Iklan