Tag

, ,


Foto: Hari Chemput

Foto: Hari Chemput

Kekuatan proses selalu membuat saya terheran-heran (kagum), dan selalu merasa biasa saja soal hasil, tak penting baik atau buruk.

Nah… hari ini saya sampai di usia 28, hal yang luar biasa, terimakasih kepada pemberi hidup, kehidupan, tak tanggung-tanggung setahun dari 5 Juli 2011 saya benar-benar mesti berproses sedemikian rupa hingga sampai pada titik mengelilingi matahari 28 kali. Titik ini saya melewati angka 27, dimana orang-orang besar Jimi Hendrix, Jim Morrison, Kurt Cobain, Amy Winehouse, tidak bisa melewatinya, walau saya juga mengalami suatu fase berbahaya di usia ini.

Sebetulnya ketika melewati angka 26 saya telah mampu melewati tahap berprosenya Soe Hok Gie, dan Chairil Anwar dua orang besar yang sampai saat ini masih saya kagumi, namun ketika mampu melewati “Forever 27 Club” (milik Jemi Hendrix dan kawan-kawan), saya betul betul menyadari bahwa dalam berkehidupan selain berarti buat diri sendiri kita mesti berarti buat orang banyak, dan itu tak pernah di dapat kalau kita kita percaya proses dan totalitas.

Sebelum saya lanjutkan, saya mesti mengkarifikasi bahwa dengan menyebut nama-nama maestro diatas, saya tak ingin mensejajarkan diri dengan orang-orang luar biasa tersebut, sama sekali tak berniat, itu hanya ilustrasi tentang bagaimana usai adalah sebuah titipan, semoga kita diberi umur panjang oleh penjaga umur.

Usia 28, adalah rentang jarak yang bagi sebagian besar orang akan mempermasalahkan urusan pencapaian formalitas, anda akan di tanya apakah sudah berkeluarga? Sudah punya anak berapa? Atau sudah jadi PNS kah? Sudah di gaji berapa? Walau pertanyan tersebut adalah produk asli pertanyan orang kebanyakan di republik ini, yang secara tataran paradigma saya tak setuju, namun sedikit banyak pastinya dalam lingkar sosial, itu menjadi sesuatu yang sedikit menyilukan.

Namun terlepas dari itu semua, saya malah jauh lebih resah ketika orang bertanya, karya apa yang telah kau punya? Perjuangan macam apa yang benar-banar kau lakukan untuk menyuarakan keresahanmu, sudahkah kau melakukan sesuatu? Atau kau hanya mengukur dan mencemooh kemampuan orang lain dengan berlagak sok tau, dan berceloteh dengan gaya yang paling hebat, namun tanpa kerja nyata, tanpa kerja kongkrit.

Saya ingin menyelesaikan proses dengan menghasilkan proses, memulai sesuatu dengan mimpi dan berusaha mewujudkanya, saya hanya ingin jadi orang biasa namun bukan orang kebanyakan, melakukan hal-hal sederhana namun kongkrit dan bermanfaat. Justru itu saya menitipkan segala keyakinan saya pada Halaman Pantai, P-thon, Painan Photography, Aliansi Palanta Umak, Kandang Kupu-Kupu tempat meditasi dan berpuisi, walau saya yakin tak semuanya akan tertumpang disana.

Sementara dalam pergulatan yang lain saya telah merasa begitu pas dengan sistem yang saya hadapi, tak terlalu terlibat dengan formalitas namun tentu tanpa meninggalkan totalitas, terimakasi orang-orang disekitar ritual kerja saya, mereka semua orang yang luar biasa. Juga kepada keluarga yang saya kira mampu memainkan peran keseimbangan antara persamaan dan kebebasan.

Semoga saya telah melakukan sesuatu di usia ini, dalam lingkar proses yang dijalankan, saya akan merawat mimpi-mimpi yang saya punya dan berusaha menghidupkannya dengan laku kongkrit. Bersama ruang-ruang dan jejaring laba-laba menuju proses selanjutnya. Terimakasih untuk semua yang telah mendoakan saya hari ini, semuanya luar biasa, bangga bisa menyapa.

Jika totalitas adalah sebuh lobang yang harus terus di gali, maka saya akan menghabisakan selururuh pikiran dan energi untuk prosesnya, untuk preosesnya. Salam 5 Juli.

Iklan