Tag


Folklore Urban Siti Nurbaya

 Di Facebook aku temukan Siti Nurbaya, sedang mengais-ngais mitos, mengadu strategi dengan urban. Kota oleng, mallmall menawarkan kecemasan. Ah, ada Siti lagi yang keluar dari pintu kaca, menggandeng bukan Datuk Meringgih, bukan pula Samsul Bahri. Senyum siapakah yang mengapung di BlackBerry, Siti Nurbaya ada dimana-mana. Maka aku menggulung di ombak Puruih, memintal pada anak kecil yang bermain layang-layang. Aku datang bukan pulang, bukan pula memungut kenangan, namun di ingatan musim meminta upahan, pada kelokkan kesekian kau sediakan kopi dan cerita panjang tentang perpisahan. “Ah, si Siti Nurbaya itu, sudah Aku suruh Dia untuk menziarahi Andaleh, tempat orang berdiskusi tentang perlawanan, namun Ia nyinyir, singgah Ia di Gunung Padang berkompromi dengan sunyi”.

Tak ada sesal yang perlu kita bentang, aku datang bukan untuk menuntut bayang, bukan pula mendebatkan sejarah, aku hanya hendak mendengar kisah, tentang jauh yang mengujung, sebelum kelokkan ada gang asoi, dibawah Jembatan Situ Nurbaya, kita juga pernah di sana bersama jagung bakar dan meneguk gelisah. Apa yang kau ambil dari ingatan tentang peluk cumbu Siti di Tapi Lawik dan Bioskop Raya. Pada masa kisah berpeluh dahaga, puan yang menawarkan cerita orang-orang Binuang, yang membentang pandang di luasnya padang, Ia memilih Ikua Anduriang, tempat meng-ijab ber-kabul.

Gelanggang ke sembilan, saat angin beraroma tenggara, pada pintu Muaro ombak berkejar dan memecah pada persendian, ngilu benar jika menggenggammu Siti, ingatan akan tanah ini adalah kisah yang tak selesai, kisah berderai, kita hapal sepotong-sepotong dalam sansai, pada yang tak berujung dibantai badai.

Painan, September 2011 

 

Urang Rupit dan Urang Tirau

Pada bukit yang menjulang, melingkari pandang yang terbentang. Kami telah bercinta bersama rimba, dengan segala rupa dan yang tak berwajah. Kami melafalkan dendang tentang tepian, laut yang membentang jua telah kami singgahi. Pada batang-batang bakau sempat kami ukir sumpah setia, seumpama tanda, sebab diantara kami ada yang menjadi saksi sejarah Pantai Aia Manih.

Dari timur perbukitan sebelah, orang-orang menuruni lurah, mereka memangsa semua yang ada, berebut petak tanah, perang antara kita yang sewarna, berperang sedaging sedarah. Dihentakkan pada tanah yang belum bernama. Ujungnya tuan membentang gelaran, semua masalah coba didudukkan, kami samar mendengar sorak sorai adu ayam.

Belanda, Inggris, Prancis ke tanah kami hanya untuk memburu lada, mereka membantai kita dengan tipu daya, menyeret dengan berbagai cerita, namun kami telah bersumpah setia pada rimba dan lautan. Waktu menggusur mereka, meraka pergi, pergi dalam takut sendiri.

Berputar waktu, darah yang dialiri sumpah setia rimba dan lautan, tak lekang dimakan panas, tak lapuk dihajar hujan. Kami kaum teruji berbilang zaman kami geluti, jalur kiri terberkati, tak hanya memberi janji, tak hanya memberi mimpi, kami menuai bukti. Namun malang tak dapat dihadang, tuan-tuan menabur utang, kami yang harus melunasi, sansai benar menanggung sejarah, kami dipotong, yang tersisa diusir ke pesisir.

Tuan yang patuh, pandai malepo, menyimpan palacuik dari lidi, hanya satu pintu yang ditawarkan penguasa, maka dendangkan tambo Simpang Potong, manikam jantung hati Anak Daro. Tali tigo sapilin disimpul arek-arek lungga. Di tungku tak bersilang kayu, namun asap memberi tanda, urang sumando ke tengah hari, mengabari sumpah setia sekarang terikrar pada janji.

Anak kami, darah daging rimba dan laut, pandai menari, pandai berpuisi, retak tangannya terbentang jalan, menerobos masa, menemukan takdir yang tak bertepi.

Painan, September 2011


Iklan