Tag


Ngeri dan Nyeri kehilangan sekitar 1600 file foto dan dapat saya pastikan 400 adalah foto bersejarah.

Singkat cerita: mendadak pulang penataran amak membawa laptop dalam keadaan rusak, tak bisa hidup. Setelah dicek memang tak bisa menyala, dibawa ke tempat service disarankan install ulang, tak masalah data di C telah diselamatkan, ternyata tak berhasil, oleh abang tukang service, dibawa ke Padang, diperbaiki di Jbros, ternyata kata mekaniknya, “bisa diperbaiki dengan catatan semua data terhapus”, pada abang tukang service. Abang tukang service mengkonfirmasi ke Amak. Amak yang tak terlalu mengerti dengan komputer, mang-ia-kan saja, dalam pikiran beliau yang penting sii laptop bisa baik, sayangnya Amak tak mengkonfirmasi pada saya. Maka dihapuslah, hilanglah semua data, hum hilanglah 1600an foto saya (februari s/d juni), dan malangnya lagi sii laptop tak bisa sembuh, dan masih ada alat yang kurang dengan biaya besar yang harus diganti. L

Nah pada intinya sii laptop tak jadi sembuh, semua data hilang (dengan berbagai cara tak bisa dipanggil ulang). Pertanyaan saya karena hard disk laptop tidak rusak kenapa ya mekanik di Jbros tak mau sedikit meluangkan waktunya untuk memindahkan data?

Saya merasa sangat ngeri kalo mengingat koleksi foto yang saya punya, saya merasa nyeri jika melihat proses “penghilangan paksa” data di D, E, F. Bayangkan ada foto pertemuan budayawan di Pangeran Hotel, itulah dialektika terakhir Wisran Hadi, karna 6 hari sesudahnya beliau berangkat ke ranah abadi. Kemudian ada rentetan kegiatan Festifal Langkisau 2011 (pembukaan, pertunjukan seni, kegiatan pasar malam, paralayang, permainan rakyat dan lain-lain), juga ada proses kelahiran anak laba-laba yang kebetulan saya dapat dengan tak sengaja, berbagai momen pribadi, halaman pantai, p-thon, aliansi palanta umak dan lain lain, dan lain lain, dan lain banyak foto lagi, jika di paksa mengingat malah makan nyeri.

Bagi saya foto adalah sebuah karya, dan ketika dia masih softcopy yang belum dipublikasi, ia tak lebih dari benih, ia selayaknya anak jiwa haruslah dilahirkan, hadir diruang publik, dinikmati dan diperbincangkan. Tentunya kemajuan teknologi mempermudah kita masuk ke ruang publik, bisa jadi bentuk publikasi online, di Facebook, Blog, Situs Foto dan lain-lain. Atau sungguh akan menarik bila foto itu dicetak dalam ukuran tertentu lalu disimpan, dipajang, atau dipamerankan dan atau (di)lainnya.

Mungkin karena saya percaya pada laptop akan aman, mungkin juga saya tak sigap dan cepat masuk keruang publikasi, tidak pula tergesa-gesa menyalin ke hardisk eksternal. Tapi akhirnya setelah sedikit tenang dan dalam renungan, inilah pelajaran yang saya dapat, jangan tunda karya dalam publikasi, jangan terlalu lama d diamkan dalam hardisk yang mungkin sewaktu-waktu mendadak rusak.

Tabik.

Iklan