Tag


Saya baru saja meng-khatamkan buku, Presiden Prawiranegara, karya Akmal Nesery Basral. Saya mau menceritakan pendapat saya tenang buku ini. Sebenarnya saya juga baru saja selesai menonton, The Social Network dan Source Code, dan saya belum mau menceritakan pendapat saya tentang dua Film ini, namun percayalah saya akan menceritakanya dilain waktu. Apalagi untuk The Social Networok, film ini punya ceritya khusus (saya rekomendasikan saudara-saudari untuk menonton film ini).

Buku Presiden Prawiranegara

Kembali kita ke Presiden Prawiranegara, Kisah 207 Hari Syafrudin Prawiranegara Memimpin Indonesia. Tentu sudah bisa ditebak, bahwa ini kisah tentang PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia). Namun sebelum masuk ke isi saya akan bercerita dulu tentang sejarah buku ini, bersama buku ”Mati Baik-Baik Kawan”, Martin Alaida, saya dihadiahi oleh mamak saya Indrian Koto, (Salah satu Sastrawan yang namanya sekarang sering diperbincangkan, di ranah sastra Indonesia), waktu itu saya memesan beberapa buah buku pada mamak Koto, kapan-kapan saya akan cerita tentang Mamak Koto, hehe saya banyak janji ya. Kata Mamak Koto “iko hadiah untuk nakan ma, di Painankan ndak ado Gramed, susuh cari buku kan?, selamat menikmati”. Mokasi Mamak, Mamak baik deh. J

Hum…apa yang menarik dari buku ini, ya seperti novel sejarah lainya Buku Presiden Prawiranegara, juga mendeskripsikan kisah Seseorang dengan prestiwa di sekelilingnya. Fakta sejarah diramu sedemikian rupa oleh penulis menjadi sebuah kisah fiksi yang enak dibaca.

Tentu kita tak lupa bahwa Presiden Prawiranegara, adalah tukoh yang sempat dihilangkan namanya oleh rezim orba, kisahnya hampir saja lenyap tertimbun oleh waktu. Padahal sangat jelas bahwa kelangsungan Bangsa sedang dipertaruhkan dan disambung oleh tangan PDRI. Membaca novel ini sedikit banyak kita akan diberi perspektif bagimana besarnya peran PDRI mempertaruhkan nasib Bangsa, bergeriliya di rimba dan ranah Minangkabau.

Menariknya kisah dinovel ini adalah sosok Kamil Koto (samo jo namo mamak ado koto di balakangnyo), tokoh utama yang bercerita bagaimana sejarah kedekatannya, Presiden PDRI, juga tokoh-tokoh bangsa pada waktu ini. Kamil Koto yang mantan preman pasar di Pariman, hampir mati dikeroyek anak buah saudagar kaya, karena mencopet sii saudagar, Kamil diselamatkan seorang Reseden (Residen Rasyid), dan nasip membawanya ikut dalam perjuangan PDRI, jatuh cinta pula dengan anak saudagar tadi, namun semua perjalanan-perjuanganya bersama PDRI, merubah garis hidupnya. Hal menarik lain, bahwa Presiden Prawiranegara tak mau dipanggil dengan sebutan presiden, Ia lebih senang dipanggil Ketua PDRI, dengan rentetean kisah perjuanganya memberi banyak pemaknaan untuk hidup berkehidupan bangsa kita hari ini.

Intepretasi makna lain yang tersampaikan, bahwa:  bagaimana kepentingan bersama jauh lebih penting dari kepentingan pribadi, bagaimana harga subuah bangsa sangat perlu didahulukan dari pada harga sebuah diri atau sebuah kelompok (belajar dari Presiden Prawiranegara). Sebuah cinta harus di perjuangkan, dan keyakinan akan cinta akan membuat seorang rela mengorbankan jiwa dan raganya (belajar dari Kamil Koto).

Namun buku ini bukan tanpa kelemahan, khusus untuk buku yang saya pegang ini ada beberapa halaman yang hilang (mukin buku lain tidak), hal ini membuat kenikmatan membaca terganggu. Selain itu dari alur cerita juga ada beberapa yang menggantung (mungkin sengaja di gantung) tapi sangat sayang saya kira, misal, di awal kisah penulis begitu antusias menceritakan tentang keluarga Prawiranegara, kisahnya tak dilanjutkan sampai akhir novel, kisah tentang penyerahan kekuasaan dari PDRI ke Presiden Soekarno yang sebutulnya sakral juga tak ditulis detail. Selain itu, ada pula ketidak konsistenan dalam mengunakan kata penyebutan aku dan nama tokoh.

Terlepas dari itu, epilog yang dipaparkan jadi nilai plus buku ini, bagaimana sosok Kamil akhirnya sampai di Afganistan. Di sana, di suatu hari Ia menemukan koran bahwa sang Presiden Prawiranegara, telah meninggal dunia. Kamil Koto mengkisahkan sebuah fakta jurnalistik bahwa Prawiranegara pernah disabotase orang-orang Orba, ketika akan memberi khotbah Idul Fitri. Teks khotbah, Syafrudin Prawiranegara, Bung Tomo, A.M Fatwa, dianggap berbahaya dan menggangu stabilitas Negara. Tokoh yang berjuang mempertaruhkan nyawa untuk bangsa dicurigai makar, benar-benar bangsa yang aneh. Bacalah, salam.

Data Buku:

Judul Buku          : Presiden Prawiranegara (Kisah 207 Hari Syafrudin Prawiranegara Memimpin Indonesia)

Penulis                 : Akmal Nesery Basral

Penerbit              : Mizan Pustaka

Cetakan               : Cetaksn I, Maret 2010

Tebal Buku          : 370 hal +xxii

ISBN                      : 978-979-433-613-7

Iklan