Tag

,


Kamis siang (16/06/2011), saya mendapat kabar bahwa malam ini akan ada gerhana bulan total, keyakinan akan kabar tersebut semakin bertambah setelah sms dari Mbenk, bahwa gerhana akan muncul 01.25 Wib dan habis pas saat azan subuh. Makanya, saya sangat penasaran karena belum pernah menyaksikan gerhana bulan total, bahkan menurut pemberitaan gerhana bulan ini adalah gerhana bulan paling lama sepanjang sejarahnya. Akan sangat asik menjadi bagian dari peristiwa ini.

Tentunya saya berharap hari tak mendung, tak hujan dan langit cerah. Sebagai seorang penikmat foto seperti saya ini, tak ada yang lebih seru selain bisa mengabadikan sii Gerhana. Permasalahnya apakah mata saya bisa diajak kompromi? Berharap ada teman juga yang tertarik dan bisa diajak motret.

Namun apa boleh dikata, saat malam mulai menjelang ketika saya menjelajahi langit dengan tatapan tak satupun bintang yang tanpak, di barat lumayan cerah namun di timur gelap, banyak awan dan berkabut. Hum… tapi hari masih sangat panjang, untuk mengobati diri, saya bergumul cuaca malam cepat berubah, paling nanti juga akan cerah 🙂

Pada pukul delapan malam seperti biasa saya akan nongkrong di palanta Ma’E, ngopi dan ngobrol dengan kawan-kawan, dan salah satu obrolan ya tentang gerhana ini. Di saat asik-asik bercerita lewatlah Ian dengan motornya, nah pucuk dicinta, Ian pun tiba, maka langsuang saya ajak duduk dan mulai bertanya apa rancananya malam ini. Ternyata oh ternyata ia lagi free, bisa di pake, heheheh… maksudnya diajak buat motret gerhana.

Ian - dari Facebook "Ian 'pluto' Guitariz"

Nah ini dia sekilas tentang Ian, Ian adalah seorang yang tertarik dengan fotogarafi, kata Ian ia mendadak jatuh cinta dengan dunia fotografi saat pertama memegang camera, dan eang ing enga, sebagai seorang gitaris paling terkenal di Pesisir Selatan untuk saat ini, yang telah mendapat banyak best-bestan, di berbagai even, Ian sempat mau jual gitarnya untuk beli camera, untung tak jadi (kabarnya di marahi oleh 8 guru penghuni penjuru mata angin).

Dan ketika sudah jam sepuluhan bukannya malah baik, cuaca makin kusam, bulan hanya tampak bias-biasnya saja, tertutup kabut tebal, Ian juga mulai ragu “lai ka muncul bulan ko paman”. Saya pun juga tidak terlalu yakin, namun karena di barat masih tetap cerah, tentu saya masih menyimpan harapan. Pada pukul sebelas lewat, kami (saya dan ian), memutuskan untuk pulang dan meninggalkan palanta, karena kondisi cuaca tidak juga berobah, “mukin ndak rasaki ko do nakan, lalok ajo wak lai” kata saya ke Ian, “iolah paman”, kata Ian.

Karena rumah kami berdekatan dan jalur jalan pulang yang sama kami pun bergerak searah, namun keajaiban datang pada saat masuk kampong tangah sii bulan muncul dengan sangat jelas, purnama penuh kabut menjauh dan Ian kembali dengan semangatnya, “kito motret paman, kito hajar, paman lalok lah dulu, beko Ian jagokan sangah duo”, “adih nakan mantap ma, io paman lalok nta lu, jagokan ko dih”. Maka sampailah kami di rumah, Ian melanjutkan aktivitas dan saya tidur sebantar, jam satu lewat Ian sudah membangunkan, mengkatakan cuaca makin bagus, bulan masih penuh, sembari menunggu, kami singgah dulu di google, cari tau tentang apa itu garhana bulan.

Maka tepat jam 01.25 waktu Painan, kami menyaksikan pelan-pelan tepian bulan mulai menghitam, perlahan-lahan makin menabjubkan, saya langsung mengeluarkan senjata (1000 D tersayang), dengan Tamron 70-300mm. Maka mulailah kami memotret dan meyaksikan detik-detik purnama. Pengalaman yang luar biasa, pengalaman yang sejarah-is hehehe, pelan pelan bulan mulai menghitam sepertiga, setengah dan akirnya tinggallah bulan sabit tipis.

Ini lah pemandangan yang paling luar biasa menurut saya, sabit bulan yang tipis, lingkar cahaya disisi penuh-nya, memerah ditambah suasana hening yang intim, dan pelan pelan sekitar setengah tiga lewat gerhana total terjadi. Saya dan Ian bergantian memotret mencoba beberapa pengaturan speed, diafrakma dan iso. Maka terdokumentasikanlah pola perubahan bulan sampai gerhana penuh. Sembari motret dg suasana yang intim, Ian juga sibuk meng-sms mas boy-nya sii Mbenk yang juga lagi motret di belahan bumi Padang.

Namun tak seperti yang kita lihat di google bulan menjadi hitam dan di tepi bulan ada lingkar cahaya tipis, saat ini bulan menjadi merah, seperti bulan sakit, namun bagi saya ini jauh lebih indah dari pada berwarna hitam.

sabit tipis menjelang gerhana penuh

Akirnya bersaaman dengan gerhana yang masih bertahan kami memilih meninggalkan sii bulan, siap-siap istirahat, menuju peraduan dan bersiap ke bulan. Malam yang luar biasa, malam yang sejarah-is, terimakasih mahapemberi hidup, terimakasih Ian, terimakasih Mbenk. Salam ^_^

foto lengkap dapat dinikmati di: http://www.facebook.com/media/set/?set=a.1808101238683.2091685.1124508949

Iklan