Tag

,


Sungguh aku tak memintamu ternyuh dan pura-pura sendu saat singgah di ujung selatan kampungku, disana hanya ada gubuk-gubuk reyok, tubuh lusuh dan ingus bocah, tua-tua yang bermenung di sandaran jendela, pemuda yang menikmati kopi dilusuh warung sambil bercerita tentang indahnya masa lalu, dan dentum domino di sudut lain. Kadang sekali waktu ada yang menjemur bada dari sisa para juragan kaya yang memborong hasil tangkapan ditengah lautan. Yang di tepi hanya tinggal kegelisahan.

Kau nikmati sajalah apa yang tampak, mereka diterkam janji, pada musim pilih memilih. Sungguhkah ini eksotik bagi orang-orang luar yang sedang mencoba bersimpati. Momotret dan menyelami kampung ini. Atau perlukah aku bisikkan suatu rahasia pada semua.

Onggokan tirani mayoritas telah mengajarkan mereka menjadi penipu yang baik. Pencitraan silih berganti mengunjungi mereka, mereka terkikis. Mereka dilukai bantuan semu, selalu yang didapat tak serupa yang terucap. Belum lagi kutukkan laut yang sudah bertahun, membusuk di harapan. (masih ingatkah tuan dan puan tentang cerita ikan tangkapan yang tak terjual dan di tanam pada tanah ini),  mereka sekarang menanggung semuanya, semua! juga dosa tuan dan puan yang membiarkan kapal-kapal dari negri entah beranta mengbom rumah-rumah ikan, manggunakan pukat raksasa, padahal mereka hanya mengenal jaring dan perahu colok pada malam hari. Saat ini yang mereka lakukan hanya mendoakan agar mitos musim tenggara membalas dosa-dasa dunia.

Desember 2010

Iklan