Haluan, 10 April 2011

Sempat Singgah Di IKJ

 Dari sederet renteten panjang persinggahan, babak belur di kejemuan, aku dipertemukan sebuah ruang untuk duduk dan menyalami sepoi angin. Percakapan dari rentang fase gerilia hutan beton yang kita jajali. Kota, kotak kelumpuhan dari reinkarnasi mitos kebahagian, legenda berserak menjadi rupa-rupa tugu dan papan reklame manja.

Kesinggahan ini tentu memberi jeda yang paling berarti, mengiring kita pada pilihan lanjutan yang akan diseberangi, sebab banyak peristiwa telah kita lalui, memakan sebagian kenyaman, mengeliat dan pertempuran ini haruslah kita syukuri, sebab kita mengerti betapa berbahayanya menyimpan luka di mall-mall, setiap saat bisa diintip, diperjualbelikan dan tak diberi pilihan untuk meradang.

Tak ada yang heroik, atau menjadi pahlawan, peluru kejar bekejar seperti bau asap bercampur aspal, kita mengerti mengapa meraka bertahan di kolong-kolong jembatan, melihat pergantian siang ke malam, menyajikan selimut kardus. Di persingghan mata kita saling bicara tentang ritme kesumpekankota, dan dilangkah kita memilih arah yang berbeda.

Tak baik berlama-lama di persinggahan, sebab persinggahan memang seperti spasi, mempermudah kita melihat celah untuk melangkah bahkan berlari, mungkin juga bersembunyi. Namun, kesempatan merekam dan meninggalkan jejak tentu telah mengantar kita pada perenungan yang mingkin saja sama, mungkin saja berbeda, namun kesinggahan di sepoi angin ini telah mengobati luka pertempuran di hutan beton.

 Jakarta – Painan, Maret 2011

Di Udara

 Jika tubuhmu mengapung di udara maka seluruh pemikiran akan tertumpah ke bumi, berpijak murni pada realita. Nasib yang membeku, luruh. Satu. Ingatan akan mengerjaimu, langkah dan laku, sebujur hujan jauh lebih tajam dari laut yang panjang.

“kampung nelayan, aku mengingatmu dikala sedang terapung, sempoyong kosong, tubuh-tubuh menggelandang di lautan”

“perkumpulan ojek, aku mengingatmu dikala sedang terapung, mengitari jam, tubuh-tubuh gosong”

“para petani, aku mengingatmu dikala sedang terapung, menanam nasib, tubuh-tubuh leleh diterjang musim”

“peladang, aku mengingatmu dikala sedang terapung, memburu tanya, tubuh-tubuh larut diterkam senja”

Tubuhku, aku mencumbu dikala terapung di udara, kutemukan lekuk-lekuk yang nyata, kuhikmati dengan sederhana, menemukan jendela pada isak realita.

 Jakarta – Painan, Maret 2011

Perpisahan Tanpa Kata-Kata

Perpisahan tanpa kata-kata adalah pelepasan yang indah, tuan.  Sebab kau dan aku tak perlu menanggung beban ingatan.  Kau tahu, beban ingatan serupa wanita perayu, cerdik dan mendebarkan.  Namun akan selalu asik jika tak dituntaskan.  Lantas dengan diam kau telah menyuruhku pergi bermain ke lahan lain, dan aku akan sangat bahagia pergi tanpa pelepasan, memulai menanam kata dan membangun pondok makna di tanah baru ini.

Kita akan merayakan kemerdekan masing-masing dengan cara yang intim. Sebab kau dan aku tak perlu mengajak yang lain berpesta. Kau tahu, pesta jauh lebih membuat kita terlena dari pada wanita yang setia.  Lantas aku memilih menyalakan lilin di kamar, menghitung tanggal yang berguguran, melengkapi seluruh ingatan dengan wajah-wajah tanpa dosa, tuan dan puan.

Pengulangan siklus adalah penguhan atas kehendak.  Sebab kita, (bukan lagi kau dan aku), telah sama-sama menertawai nasib, namun aku sangat tahu, kau sedang menertawakan dirimu sendiri, membangun ketakutan sendiri, dan mencoba menawar-nawar keyakinan. Itu sangatlah fatal tuan, kau telah terbungkamkan. Namun, tentunya aku tak akan lupa ucapkan terimakasih yang sangat dalam atas semua kesempatan. Selamat petang.

Painan, Februari 2011

Di Taman Suropati

 Di subuh segala ketidakselarasan menjadi satu dan bergandeng siring. Aku menghirup pagi di keberagaman kopi yang lalu lalang, pada mataku aku selipkan potongan-potongan kisah, direkam dalam aroma kantuk, dikecupi lembut buih-buih embun, disusupi teka-teki, menepi.

Halaman mengembang menjadi trapesium merah jambu, pundak waktu seperti daun-daun yang berguguran di pagi, bau minggu menyapa, ngilu nada minor dari gesekan biola masih sayup terdengar. Gelap merayap pergi, kita bergeges berlari.

Bumi ranum, kisah 24 jam, bagi mereka yang hidup sepanjang waktu, melubangi angin, beragam warna menyusup, menyatukan segala ketidakselarasan, udara mulai menghangat, ingatan tak sanggup menampung potongan kisah, akirnya pasrah terlelap dalam lelah.

 Jakarta – Painan, Maret 2011

Iklan