Tag

,


Jika bercerita tentang romantisme saya di antroACTIVE, selain tulisan saya pertama kali dipublikasikan di media ini, adalah bagaimana kami (saya dan rekan saya Febi “sedeng”) direkrut dan bergabung dengan redaksi antroACTIVE. Ini kisah yang tragis, sedikit menyesakkan dan pedih teman. Ingin tau kisahnya, saya rasa sebaiknya jangan, cukuplah baca pargraf awal ini, jangan lagi diteruskan, karena kisah ini benar-benar…..

Febi "sedeng" - teman duet awal di buletin ini

Nah ini awalnya, di suatu siang pada September 2003, ketua IKA (Ikatan kekerabatan Antropologi), Wahyu Hidayat memberi  amanah pada seseorang, Vera Wati (ini sekretaris IKA lo, uni saya: yang manis dan baik hati ini). Amanahnya, “Yuka dan Ebi, buek antroACTIVE, iko bahan-bahannyo, langsuang ado dana awal di siko, dalam minggu kini harus siap yo, kok kurang bahan tambah-tambah ajo”, sambil menyerahan sebentuk bungkusan. Sambung Uni Vera “bang Wahyu sedang di Jakarta, ndak bisa manolong do, kalian ba duo yang harus manyalasaikanyo”. Apa jawaban kami, “io uni”, taukah kawan-kawan “io” yang saya maksud adalah “io” yang penuh kegamangan.

Kegamangan akibat kami buta dengan dunia buletin-buletin(an) ini, namun perintah itu seperti sebuah kejutan besar, tentunya setelah tulisan saya pertama terbit saya berharap bisa menjadi bagian dari redaksi, bisa dididik, diberi ilmu tentang jurnalistik, tulis menulis, me-layout, me-design dan terjun pula sebagai wartawan kampus. Kesempatan bisa bergabung di redaksi sudah di depan mata, namun tak ada satupun transfer pengetahuan yang kami dapat, ini seperti dipaksa, namun saya menikmati (entah kawan saya sedeng).

Setelah itu, Uni Vera berlalu, kami membongkar isi berkas dalam bungkusan, bertemulah satu edisi lama yang telah dicetak, babarapa bahan tulisan kawan-kawan ditulis tangan ada juga diketik, dan uang kira-kira 20 ribuan lebih. Nah, apa yang ada dalam kepala saya, mungkin juga sedeng, bagaimana mengerjakan bahan-bahan ini dan merubahnya dalam format buletin, siap dibaca oleh orang banyak? Kami tak memiliki kemampuan layout, komputer masih pas-pasan, di berkas tak ada format digital sebagai contoh, tidak ada pula petunjuk, yang ada cuma perintah bahwa edisi ini harus terbit dalam minggu ini, bersama bahan yang tersedia, maka dengan semangat ‘98, kami berembuk mengerjakan edisi pertama kami.

Setelah berembuk, memilah-milah bahan, mengamati buletin yang telah jadi pada tangan kami (ini semacam rapat redaksi ya???).  Rapat redaksi yang di lakukan berdua. Maka kami membuat jadwal untuk mengarjakannya. Memulai petualangan kami, bekerja di redaksi antroACTIVE, berdua, cuma berdua kawan, berdua.

Taukah kawan- kami mengerjakanya dengan Microsoft Word, tidak Publiser (seperti waktu saya bekerja di  KANVAS dan Halaman Pantai ~ suatu saat kita juga akan bercerita tentang KANVAS dan Halaman Pantai). Dengan Microsoft Word, kami mengetik ulang semua bahan, mendesain, me-layout, ini kami kerjakan bergiliran berdua, di rental, setalah pulang kuliah di sore hari – sampai malam selama 3 hari. Seperti orang gila, rental seperti kantor redaksi, kami ribut, menghardik, bacaruik, membaca puisi cinta keras-keras, tak peduli orang melihat pada kami berdua, tak peduli apa yang dikatakan orang, kami mengerjakannya, sampai selesai, dari mengetik, layout sampai mem-print, menempel ulang sebelum di fotocopy (diperbanyak).

antroACTIVE EDISI 3, Tahun III, September 2003 "ini adalah edis pertama yang kami kerjakan"

Ini menyedihkan, mengharuhkan, namun demi kecintaan saya pada dunia tulis-baca, awalnya bukan cinta pada antroACTIVE ini, saya pasrah, perintah gila saya sambut dengan kesenangan, namun setelah edisi pertama saya dan Sedeng terbit saya benar-benar cinta mati, sampai hari ini. Saya rindu antroACTIVE.

Iklan