Tag

,


Menguras kamar mandi seperti menguras tubuh kekasih, sesak yang tak terbatas, berpacu kencang merayap kesana kemari, bertempur melawan cemas sendiri. Kepercak air mengancam ingatan,  mengkerdikan semua keinginan. Melumpuhkan bisik qalbu, bahkan jiwa tak berani merayu.

Sudah kuizinkan puisiku singgah di lorong pembuangan itu, tempat seluruh meluncur – menghanyut – bersarangnya air, tanpa pintu. Ku izinkan kau masuk dalam lukaku, naman jangan kau sentuh ingatan tentang masa lalu.  Huruf-huruf menggelegar, kata-kata gaduh, dan aku telah mempersiapkan kalimat perpisahan untuk sebuah perjalanan jauh.

Kukenang segala yang kusam, setelah semuanya kembali cemerlang, kita tak dalam keinginan memenangkan apa-apa, mengapa harus saling mengalahkan. Licin di ubin tersipu rindu, tak lagi sisakan cemas. Namun resah terus ku pelihara, kujaga sebaik perubahan terang dan kelam.

 Jakarta – Painan, Maret 2011

Iklan